Beranda Bali Lubdaka Bertahun Baru

Lubdaka Bertahun Baru

Lubdaka Bertahun Baru

Oleh : I Gusti Ketut Widana

Hari suci Siwaratri kali ini, meski tidak tepat dilangsungkan pada malam pergantian tahun, tetapi pelaksanaannya pada 1 Januari merupakan tanggal pertama sebagai penanda tahun baru 2022. Bukan kebetulan tetapi suatu ketepatan, hari suci Siwaratri diselenggarakan berbarengan saat masyarakat dunia (masih) bereuforia merayakan tahun baru. Hanya saja sangat berbeda suasana, nuansa dan aroma pelaksanaannya. Siwaratri menghadirkan suasana sakral, religius dan sarat (ajakan) kontemplasi, meningkatkan kualitas rohani dengan melakukan penyucian jiwa (atma). Sementara itu perayaan tahun baru lebih menampakkan nuansa profan, tendensius dan kental aroma hedoni sebagai moment pemanjaan hasrat duniawi (kama).

Kendati demikian, ada satu sisi yang dapat disinergikan pemaknaannya, yaitu bagaimana kehadiran Lubdhaka sebagai sosok sentral dalam narasi Siwaratri dapat mendorong dan kemudian mengejawantahkan makna religis ke dalam tataran etis. Bahwa di saat moment Siwaratri yang bersifat sakral dan pergantian tahun baru yang bergaya seremonial, ada bentuk kebaruan yang sepatutnya ditunjukkan setiap individu sebagai bukti kehidupan yang dijalani dari tahun berganti tahun, tampak semakin maju dan bermutu, baik secara lahiriah maupun rohaniah.

Ditelisik secara hermeneutik, sejatinya tokoh Lubdhaka bukanlah figur personalistik individualistik, tetapi sosok imajineristik simbolik dengan karakteristik sebagai pemburu. Sejatinya, setiap manusia adalah pemburu. Setidaknya pencari segalanya untuk memenuhi kebutuhan, termasuk keinginan yang adakalanya berlebihan. Pembedanya, jika tokoh Lubdhaka dalam teks kakawin Siwaratrikalpa, pada ujung narasi (satua/tattwa) diceritakan berhasil mencapai puncak kesadaran spiritual, tepat di saat malam Siwa beryoga, hingga mendapat anugrah surga. Sedangkan pertanyaan besar untuk kita (umat Hindu) sebagai sosok “Lubdhaka” dalam dunia realita, apakah masih tetap sebagai pemburu, dan bagaimana ujung cerita perburuannya ?.

Saat peringatan hari suci Siwaratri di tahun baru 2022 inilah, patut dilakukan kontemplasi, sembari introspeksi : berkilas balik terhadap apa yang sudah diburu, mawas diri terhadap hasil buruan, mulat sarira terhadap cara berburu dan mengevaluasi terhadap ujung capain perburuan. Intinya, pelaksanaan Siwaratri di saat tahun baru kali ini mengajak umat menandai langkah awal/pertama dengan “melihat” dulu ke dalam diri, bertanya pada hati nurani, lalu berketetapan hati mengambil sikap dan langkah menerus-lanjutkan perjalanan hidup yang tetap tidak bisa lepas dari corak berburu, persis seperti titik awal kehidupan manusia zaman purba, hingga akhir zaman tiba.

Sepertinya, sosok Lubdhaka sebagai pemburu memang sejak zaman awal peradaban sudah menjadi bagian kehidupan manusia. Tetapi masih sebatas sebagai pemburu kodrati guna memenuhi kebutuhan dasar biologi manusia : makan untuk hidup. Namun kini, Lubdhaka dalam teks narasi telah bertransformasi menjadi Lubdhaka kontemporer yang tidak jarang berprinsip tidak hanya makan untuk hidup, atau hidup hanya untuk makan, melainkan lebih dari itu, menghalalkan hidup ini sebagai kesempatan “makan” apapun bahkan siapapun demi untuk tetap eksis kehidupannya.

Jika Lubdhaka dalam teks Kakawin Siwaratrikalpa karya adikawi Mpu Tanakung, secara fragmentaris ilustratif menggambarkan proses pendakian rohani hingga mencapai puncak kesadaran spiritual. Maka Lubdhaka kontemporer dalam konteks kekinian, acapkali melakukan “pendakian” (baca: pengotoran) diri lewat perburuan material dengan segala cara untuk mencapai puncak kesuksesan, berhasil kembalikan modal hingga meraup keuntungan finansial-kapital guna meninggikan harkat, derajat dan martabat personal dalam strata status sosial.

Kalau Lubdhaka versi Siwaratri diamanatkan menjalankan brata (pantangan) untuk mencapai satu tujuan, dengan tidak bicara (mona), menahan rasa lapar dan dahaga (upawasa), serta selalu dalam keadaan eling/sadar (jagra), tampaknya Lubdhaka masa kini cenderung mengekspresikan diri dengan banyak bicara (berteori), belum mampu mengendalikan diri (ego, emosi), dan diliputi ketidaksadaran (lali/lipya). Konsekuensinya, capaiannya pun tetap hanya bermain di tataran materi-duniawi, cenderung hedoni, menyingkirkan sisi-sisi rohani – religiusitas dan atau spiritualitas.
Saat Lubdhaka bertahun baru sekarang ini, tampaknya tetap diperlukan kehadiran sosok Lubdhaka tekstual yang secara kontekstual dapat mentransformasi diri secara personal, lalu secara sadar terobsesi melakukan pendakian spiritual sebagai jalan tunggal, bersatu kembali pada Siwa – Tuhan transendental.

Penulis, Dosen UNHI dan Alumni UHN IGB Sugriwa Denpasar

RELATED ARTICLES

Manohara Beauty Camp Dorong Impian Putu Bintang Putri Darmawan Raih Prestasi di Ajang Miss Teen International 2022

Putu Bintang Putri Darmawan yang didaulat mewakili Indonesia dalam ajang Miss Teen Internasional Indonesia 2022 dalam ajang kontes Mis Teen Internasional 2022 yang akan...

Aparat Hukum Jangan Lindungi Mafia Tanah

Rencana eksekusi lahan SHM No. 271/Ungasan di Ungasan, Uluwatu-Bali pada 23 Februari 2022 dan segala persoalan yang melatarbelakangi kasus ini membuka mata kita semua...

MOVFOR, Antivirus Khusus COVID-19 Pertama di Indonesia Resmi Beredar

Keadaan pandemi COVID-19 di Indonesia menuntut upaya strategis dan cepat untuk mengatasinya. Varian Omicron yang dengan cepat menyebar membuat Indonesia memasuki gelombang ketiga sehingga...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Manohara Beauty Camp Dorong Impian Putu Bintang Putri Darmawan Raih Prestasi di Ajang Miss Teen International 2022

Putu Bintang Putri Darmawan yang didaulat mewakili Indonesia dalam ajang Miss Teen Internasional Indonesia 2022 dalam ajang kontes Mis Teen Internasional 2022 yang akan...

Aparat Hukum Jangan Lindungi Mafia Tanah

Rencana eksekusi lahan SHM No. 271/Ungasan di Ungasan, Uluwatu-Bali pada 23 Februari 2022 dan segala persoalan yang melatarbelakangi kasus ini membuka mata kita semua...

MOVFOR, Antivirus Khusus COVID-19 Pertama di Indonesia Resmi Beredar

Keadaan pandemi COVID-19 di Indonesia menuntut upaya strategis dan cepat untuk mengatasinya. Varian Omicron yang dengan cepat menyebar membuat Indonesia memasuki gelombang ketiga sehingga...

PHDI Kecamatan Kuta Kukuhkan PHDI Kelurahan dan Berikan Dana Pembinaan 1 Juta

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) se kecamatan kuta melaksanakan pengukuhan kepengurusan PHDI Kuta beserta jajarannya sekaligus dilangsungkannya upacara secara sederhana Mejaya-Jaya yang dilaksanakan secara...

Recent Comments