Ketua PHDI Kuta, I Nyoman Sarjana yang mengikuti Ujian Terbuka Promosi Doktor Ilmu Agama, Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) Jumat (28/5) di aula pasca sarjana. Dirinya meneliti tentang Upacara Pamarisudha Karipubhaya dalam Recovery Pariwisata di Kuta Pasca Bom Bali tahun 2002 yang dituangkan ke dalam disertasi.

Upacara Pamarisudha Karipubhaya merupakan salah satu bentuk usaha masyarakat Kuta memulihkan suasana pasca ledakan bom tersebut, agar kembali menjadi santhi dan agadnita dengan berlangsungnya kembali aktivitas kepariwisataan secara normal pasca bom Bali tahun 2002,” ungkapnya, seperti yang dilansir dari laman Baliexpress.com, Kamis (27/5/2021).

Pemilihan upacara Pamarisudra Karipubhaya sebagai jalan me-recovery pariwisata kuta, didorong beberapa faktor. “Faktor-faktor tersebut yakni teologi Hindu, Dumanggala-Durbhiksa, kepercayan tentang Salah Pati, hiruk-pikuk media masa, ketakutan sekala niskala, memulihkan Tri Hita Karana, keterpurukan pariwisata dan faktor tokoh,” terang pria kelahiran Legian, 25 Oktober 1962 ini.

Terkait upacara, dilaksanakan dengan beberapa tahapan ritual. Dimulai dengan Nyukat Genah Upacara, Matur Piuning, Ngias Wewangunan lan genah upacara. Dilanjutkan Nuwur Tirta Pakulun dan Mapepada.

“Terakhir Puncak Karya, yang dipimpin Tri Sadhaka, serta terdiri dari Tawur Agung, Tawur Gentuh, dan Mapakelem,” jelas ayah tiga anak ini.

Adapun pemimpin upacara Tawur Agung dibekas ledakan bom, yakni Ida Pedanda Gede Putra Bajing, Ida Pedanda Griya Buduk, Ida Pedanda Buda Nyoman Jelantik (Geriya Budakeling), dan Ida Rasi Bhujangga (Geriya Sempidi). Sementara itu di jaba Pura Segara dilaksanakan Upacara Tawur Gentuh dipimpin tiga pendeta, Ida Pedanda Pemaron (Munggu), Ida Pedanda Buda (Geriya Sukawati), dan Ida Rshi Bhujangga (Geriya Ubung). Upakara pokok yang dipergunakan pada tahap inti terdiri Banten Tawur Agung, Banten Tawur Gentun, dan Mapakelem,” papar suami dari Ni Wayan Yoniasih tersebut.

Pamarisudha Karipubhaya diKuta, kata Sarjana, menjadi bagian recovery pariwisata setempat. Hal ini memberikan implikasi secara spesifik. Pertama, implikasi aitra tujuan wisata, yakni mampu mengembalikan citra wisata dalam kebudayaan global dan citra tujuan wisata dalam perpektif lokal. Kemudian, implikasi pariwisata budaya. “Implikasi pariwisata budaya dam hal ini terdiri dari penguatan kearifan lokal dan komunikasi budaya di tengah kehidupan par visata Kuta,” katanya.

Ada pula, impikasi ekonomi pariwisata yang dikatakan mengalami hambatan, sebelum digelarnya upacara Pamarisudha Karipubhaya. Terakhir yakni implikasi kebijakan pariwisata. Upacara tersebut
dinyatakan mendatangkan sebuah kebijakan pariwisata di Kuta.

Dari penelitian tersebut, Sarjana memaparkan temuannya. Pertama, Pamarisudha Karipubhaya merupakan upacara yang merefleksikan pembersihan bhuana agung secara masif dan terstruktur.

Kedua, berkedudukan sebagai terapi keagamaan dalam recovery pariwisata Kuta. Terakhir menjadi upacara yang secara nyata mengembalikan kepercayaan dunia internasional terhadap Kuta sebagai destinasi pariwisata.

Atas pencapaiannya, Sarana pun berterima kasih kepada Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudana, M.Si., Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa sekaligus Promotor, dan Dr. Drs, I.B Candrawan, M.Ag. selaku Kopromotor. Kemudàn Direktur Pascasarjana UHNI I Gust Bagus Sugria Prof. Dr. Dra Relin D.E, MAg., Ketua Program Studi Doktor Imu Agama Dr.I Nyoman Subaga, SAg., M.Ag., dan Sekretaris Program Doktor D. I Gede Suvantana, S.Ag., M.Ag. yang telah memfasilitasi selama menuntut ilmu.

Demikian pula tim penguji, Prof. Dr. Dra. Relin D.E, M.Ag; Prof. Dr. Drs. Ketut Sumadi, M.Par; Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA; Prof. Dr. Nyoman Dantes; Dr. Made Sri Putri Purnamawati, S.Ag., MA., M.Erg; Dr. Drs. I Wayan Wastawa, MA; Dr. I Gede Sutarya, SST.Par., M.Ag. “Tentunya saya juga berterima kasih kepada orang tua dan keluarga, karena telah memberikan dukungan secara mental, spiritual, dan materi selama menjalani studi,” tandasnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here