PHDI Badung Gelar Diskusi Dharma Wecana Bersama Pemuda Br Basangkasa

0
3

bali.inapos.com – Bagaimana jika seandainya orang yang sudah hamil lalu hendak menikah namun tidak menemukan hari baik, setelah sekian lama mencari hari baik namun tidak ada hingga akhirnya anaknya lahir? pertanyaan tersebut terlontar saat Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung bersama PHDI Kecamatan Kuta dan Kuta utara memberikan Dharma Wecana kepada pemuda Banjar Basangkasa Kuta, Badung, yang dipandu oleh DR. Rudia Adiputra M.ag. bersama Drs. I Nyoman Sarjana dan Made Karpa, Minggu (17/11/2019) malam.

“Terkait hal itu, Mohon jangan karena alasan menunggu hari baik lalu membiarkan untuk tidak kawin dan akhirnya malah bayinya lahir, Ini menjadi hal yang tidak baik,” kata Rudia.

Menurutnya, ada petunjuk wariga menyebut “alah Dening de Hning (ambek parama artha) untuk melaksanakan perkawinan sebelum anak lahir, sebab kalau sampai anak lahir itu artinya anak seorang ibu, sungguh kasihan anaknya nanti.


Disamping pemuda hadir juga Prajuru Banjar, Kelian Adat, Ngh Mardawa dan Kepala lingkungan Br. Basangkasa, Ngh Suwarja serta hadir pula ibu-ibu Prajuru Banjar yang kesemuanya sangat antusias menyimak Dharma Wecana yang diberikan, Materi disampaikan dari Brahmacari ke Grahasta yaitu Dari pemuda menuju jenjang perkawinan/Wiwaha.

Dalam diskusi tersebut, Kepala Lingkungan sempat menanyakan tentang Sudi Wedani dan Upacara Pati Wangi, “Sudi wedani sebaiknya dilakukan jauh sebelum perkawinan dan dapat dilakukan Di pura umum atau dirumah Sang mempelai lelaki ataupun perempuan calon pengantin dengan satu Pejati dan ada saksi. Sedangkan untuk Upacara Patiwangi sudah dihapuskan sejak tahun 1951. Jadi tidak ada lagi upacara patiwangi” terang Rudia.

Terkait penamaan Gusti, Anak Agung, Ida bagus dan Ida ayu itu adalah nama sesuai nama bagi warga bersangkutan, itu bukan menyatakn tinggi rendah kedudukan atau pangkat seseorang, Jadi upacara Mepati Wangi sudah tidak perlu dan itu tradisi lama yang tidak selaras dengan ajaran agama yang menjunjung tinggi tattwamasi dan wadudewakutumbhakam.

Setelah menyampaikan Dharma Wecana, I Nyoman Sarjana yang juga Ketua PHDI Kuta memberikan secara simbolis buku berjudul Upacara Manusa Yadnya yang diserahkan kepada Ketua pemuda dan kepada kelian adat dan kepala lingkungan untuk tuntunan melaksanakan yadnya. (sarjana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here